Press ESC to close

Jet Rafale: Anggaran Jumbo dan Keraguan Efektifitas untuk Pertahanan Indonesia?

Indonesia telah memutuskan pembelian 42 unit jet tempur Rafale buatan Prancis senilai USD 8,1 miliar sebagai bagian dari modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) nasional. Enam unit pertama direncanakan tiba pada 2026, dan sisanya menyusul kemudian. Jet Rafale sendiri merupakan pesawat tempur generasi 4.5 yang selama ini dipandang sebagai simbol kekuatan militer modern. Keputusan ini pada awalnya dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat pertahanan udara. Namun, peristiwa terbaru yang melibatkan jet Rafale milik India dalam konflik dengan Pakistan mengguncang persepsi dan menimbulkan pertanyaan besar: Apakah Rafale benar-benar pilihan yang efektif dan efisien untuk Indonesia?

Kasus India-Pakistan: Rafale Jatuh di Tangan Jet Murah China

Pada 7 Mei 2025, Pakistan mengklaim telah menembak jatuh lima pesawat tempur India, termasuk tiga jet Rafale, menggunakan pesawat J-10C buatan Tiongkok dan rudal PL-15 jarak jauh[1]. Jika kita lihat, ini merupakan pertama kalinya Rafale ditembak jatuh dalam pertempuran, meruntuhkan citra keunggulan teknologi Barat yang selama ini melekat padanya. Situasi ini menjadi lebih ironis jika melihat bahwa J-10C hanya dihargai sekitar USD 50 juta, jauh lebih murah dari harga satu unit Rafale yang mencapai USD 192 juta[2].

Penembakan terhadap rafela dilakukan oleh jet J-10C buatan Tiongkok yang digunakan oleh Angkatan Udara Pakistan. Jet-jet ini dilengkapi rudal PL-15, rudal udara-ke-udara jarak jauh yang memiliki kemampuan beyond visual range (BVR) hingga 145 kilometer.

Yang mengejutkan dunia bukan hanya kerugian India, tetapi fakta bahwa Rafale yang dianggap sebagai ujung tombak kekuatan udara India dapat dijatuhkan oleh pesawat tempur yang harganya empat kali lebih murah. Jet J-10C sendiri hanya bernilai sekitar USD 50 juta per unit, dibandingkan Rafale yang mencapai hampir USD 200 juta per unit.

Efektivitas vs Efisiensi: Harga Tidak Menjamin Kemenangan

Kejadian ini menjadi titik kritis dalam menilai efektivitas pertahanan berbasis alutsista dengan anggaran yang mahal. Dalam benak pikiran melihat tumbangnya rafela. Apakah pembelian Rafale benar-benar didasarkan pada kebutuhan strategis atau hanya pada gengsi dan diplomasi pertahanan.

Rafale memang memiliki teknologi canggih, termasuk kemampuan multirole, radar AESA, dan sistem peperangan elektronik. Namun, semua itu tampaknya tidak cukup dalam menghadapi rudal modern dan sistem taktis yang lebih murah namun efisien, seperti yang dimiliki J-10C dan PL-15. Perang modern kini lebih menuntut kecerdasan sistem dan integrasi jaringan, bukan semata keunggulan aerodinamika atau nama besar produsen.

Dampaknya bagi Indonesia

Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi sinyal peringatan. Dengan nilai kontrak USD 8,1 miliar, pembelian Rafale adalah salah satu pengadaan alutsista terbesar dalam sejarah Indonesia. Dalam situasi ekonomi yang sedang tidak stabil, alokasi dana sebesar itu patut diawasi dan dievaluasi secara kritis. Apalagi, kita tahu bahwa pertahanan Indonesia masih menghadapi banyak tantangan lain: dari keterbatasan sistem radar nasional, lemahnya pertahanan udara, hingga masalah interoperabilitas antar matra.

Tidak hanya itu, pengadaan jet Rafale juga menyertakan biaya tinggi dalam hal pelatihan, pemeliharaan, dan suku cadang. Sementara itu, produsen senjata dari negara lain seperti Tiongkok dan Turki kini menawarkan sistem senjata dengan harga jauh lebih kompetitif dan fleksibilitas dalam skema pembelian serta alih teknologi.

Sebagai pemuda yang peduli terhadap masa depan bangsa dan ketahanan nasional, kami merasa prihatin atas alokasi anggaran yang begitu besar untuk pengadaan jet Rafale. Belajar dari India, yang meskipun memiliki armada Rafale, tetap mengalami kerugian dalam konflik udara dengan Pakistan, kita patut bertanya: apakah pengeluaran sebesar itu benar-benar sepadan dengan efektivitasnya? Apakah tidak ada opsi lain yang lebih hemat namun tetap mumpuni?

Dalam konteks global, konflik India-Pakistan ini menunjukkan bahwa kemampuan teknologi tinggi belum tentu menjamin keunggulan dalam pertempuran nyata. J-10C, walau lebih murah, terbukti efektif karena memiliki sistem integrasi senjata dan radar yang canggih serta didukung rudal PL-15 dengan jangkauan hingga 145 km[3]. Hal ini memperlihatkan bahwa efektivitas tempur tidak selalu berkorelasi dengan harga.

Kepentingan Nasional atau Gengsi?

Fakta bahwa Rafale bisa dijatuhkan oleh pesawat murah dari Tiongkok membuktikan bahwa mahalnya harga bukan jaminan mutlak untuk superioritas di udara. Jika Indonesia ingin memperkuat pertahanan udara, maka pendekatannya harus menyeluruh: peningkatan kemampuan radar, integrasi sistem senjata, pembangunan pusat komando dan kontrol yang modern, hingga investasi dalam teknologi drone dan pertahanan siber.

Pembelian alutsista tidak boleh semata soal pamer kekuatan atau kepentingan diplomatik, tapi harus berdasarkan evaluasi objektif terhadap kebutuhan militer, kemampuan ekonomi, serta potensi ancaman di kawasan.

Kunjungan Presiden Macron ke Indonesia: Strategi Diplomatik atau Lobi Penjualan Jet Rafale?

Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 27–29 Mei 2025. Kunjungan ini merupakan bagian dari tur Asia Tenggara yang juga mencakup Vietnam dan Singapura.

Selama di Indonesia, Macron akan disambut oleh Presiden Prabowo Subianto. Kunjungan ini bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Prancis, serta bertujuan untuk memperkuat kemitraan di berbagai bidang strategis [4].

Namun, di balik agenda diplomatik resmi, terdapat konteks penting yang layak dikritisi, terutama terkait penjualan jet tempur Rafale, produk andalan industri pertahanan Prancis yang sempat mendapat sorotan negatif setelah insiden jatuhnya jet tersebut dalam konflik India-Pakistan beberapa bulan lalu.

Selain itu, kunjungan Macron tersebut dapat dilihat tidak hanya sebagai upaya memperkuat kerja sama bilateral, tetapi juga sebagai momentum untuk memulihkan kepercayaan dan memperkuat negosiasi terkait pengiriman dan potensi pembelian tambahan jet Rafale. Macron kemungkinan akan membawa jaminan teknis dan pembaruan terkait keselamatan produk guna menanggapi kekhawatiran Indonesia.

Dapat dikatakan dengan kunjungan Macron ke Indonesia merupakan kombinasi antara strategi diplomatik dan lobi bisnis. Penjualan jet Rafale kemungkinan menjadi salah satu poin penting dalam pembicaraan, namun tidak terlepas dari upaya memperkuat kemitraan bilateral yang lebih luas dalam bidang keamanan, ekonomi, dan budaya.

Suara Generasi Muda Soal Pertahanan Nasional

Sebagai penerus bangsa, kami mengingatkan agar pemerintah Indonesia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengadaan alutsista, khususnya untuk 36 unit Rafale yang belum dikirim. Diperlukan kajian ulang terhadap biaya operasional, interoperabilitas dengan sistem lama (seperti F-16 dan Sukhoi), serta efektivitas nyata di lapangan. Tidak kalah penting, perlu ada peningkatan dalam transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan alutsista, agar anggaran pertahanan tidak terbuang sia-sia.

Ke depan, Indonesia sebaiknya mempertimbangkan strategi diversifikasi pertahanan yang tidak hanya bergantung pada satu jenis senjata canggih, tetapi juga memperkuat industri pertahanan dalam negeri, sistem radar nasional, serta kemampuan pertahanan udara berlapis. Ketahanan bukan hanya soal membeli teknologi mahal, tetapi bagaimana kita membangun sistem yang solid, adaptif, dan sesuai kebutuhan nasional.

Indonesia tidak kekurangan alih teknologi dan pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Pemerintah seharusnya mendorong alih teknologi dan pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Kita tidak boleh selamanya bergantung pada produk luar negeri. Justru inilah momen untuk mendorong PT Dirgantara Indonesia dan industri nasional lainnya lebih aktif dalam riset dan produksi alutsista.

Didalam sektor pertahanan, perlunya ada sebuah hal yang diprioritaskan dakan hal ini yakni pertahanan yang adaptif dan cost-effective. Dimana dunia cepat berubah, maka perlu dikembangkan industry Teknologi drone, sistem pertahanan jarak jauh, dan jaringan komando modern bisa menjadi solusi yang lebih tepat dan hemat dibandingkan hanya membeli jet tempur mahal.

Sebagai pemuda, kami tidak menolak modernisasi alutsista. Namun kami menolak pemborosan anggaran dan keputusan strategis yang tidak berdasarkan evaluasi menyeluruh. Rafale boleh jadi pesawat canggih, namun jika terbukti rentan dan mahal, maka Indonesia berhak mencari solusi yang lebih masuk akal demi kedaulatan bangsa.

Investasi sektor pertahanan sebesar itu harus benar-benar memberikan daya gentar dan daya tahan yang nyata, bukan sekadar simbol kemewahan militer. Jangan sampai anggaran triliunan justru menjadi beban tanpa memperkuat pertahanan kita secara substantif.

 

Refrensi:

[1] Reuters. “Pakistan's Chinese-Made Jet Brought Down Two Indian Fighter Aircraft, US Officials Say.” 8 Mei 2025. https://www.reuters.com/world/pakistans-chinese-made-jet-brought-down-two-indian-fighter-aircraft-us-officials-2025-05-08/

 

[2] South China Morning Post. “Indonesia’s Costly Bet: French Rafale Jets Under Scrutiny After India-Pakistan Aerial Clash.” 17 Mei 2025. https://www.scmp.com/week-asia/politics/article/3310309/indonesias-costly-bet-french-rafale-jets-under-scrutiny-after-india-pakistan-aerial-clash

 

[3] The Guardian. “Pakistan’s Use of J-10C Jets and Missiles Exposes Potency of Chinese Arms.” 14 Mei 2025. https://www.theguardian.com/world/2025/may/14/pakistans-use-of-j-10c-jets-and-missiles-exposes-potency-of-chinese-arms

 

[4] Kompas.com, "Presiden Perancis Emmanuel Macron ke Indonesia Pekan Depan, Akan Disambut Prabowo," 21 Mei 2025. https://nasional.kompas.com/read/2025/05/21/19223791/presiden-perancis-emmanuel-macron-ke-indonesia-pekan-depan-akan-disambut

 

Gambar Pixabay.com

Putri Khairunnisa

Alumni Mahasiswa S1 Jayabaya dan S2 Universitas Indonesia

@CitizenJurnalisme on Galeri
Perfect
New Day
Happy Day
Nature
Morning
Sunset