Press ESC to close

Benny Laos, Solusi Kepemimpinan Maluku Utara

“Demokrasi merupakan mekanisme politik untuk memilih pimpinan politik”

– Joseph Schumpeter (1883-1950), ekonom Amerika-Austria.

Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak telah memasuki babak kampanye yang dilakukan oleh para calon Kepala Daerah di setiap wilayahnya. Berbagai intrik dan juga janji kampanye yang menjadi “senjata” dalam memenangkan pertarungan di atas ring Pilkada telah dipersiapkan untuk mendulang suara terbanyak sebagai syarat mutlak demi memenagkan kontestasi tersebut. Intrik dan polesan yang dilakukan tim kampanye dan atau tim pemenangan dalam menginterpretasikan visi misi calon kepala daerah (Cakada) dilakukan dengan pola dan metode yang tentunya sejalan dan berdasarkan kebutuhan masyarakat.

Tentunya, ini menjadi sebuah kewajaran dalam sebuah sistem demokrasi yang dianut dalam irama politik di Indonesia. Euforia para cakada dan juga tim pemenangannya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya.

Terlepas dari itu semua, tentu bahwa para cakada tersebut akan memaksimalkan segala bentuk potensi yang dimilikinya, baik itu partai politik sebagai mesin penggerak maupun tim pemenangannya, yang berasal dari berbagai unsur dari kalangan masyarakat.

Politik dan Kemajuan Daerah

Pada beribu abad yang silam, Aristoteles yang kita kenal bersama sebagai salah satu filsuf besar dari Yunani dengan konsepnya tentang manusia sebagai Zoon Politikon (binatang politik) itu pernah menyebutkan bahwa:  “Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama”. Kini, pada ahun 2024, yang kerap diistilahkanmenjadi ‘tahun politik’ merupakan interpretasi dari pembicaraan masyarakat dari warkop (warung kopi) ke warkop. Hal ini tentunya merujuk dari pesta demokrasi yang dilaksanakan di Indonesia tahun 2024 mulai dari Pemilu (Pilpres dan Pileg) sampai Pilkada (Gubernur dan Bupati/Walikota) nanti pada 27 November 2024.

Pemilu dalam konteks Pilpres dan Pileg telah usai dengan dinamika yang begitu kompleks. Saat ini, Pilkada serentak pun telah memasuki etape atau masa kampanye setelah penyelenggara Pilkada telah menetapkan para cakadadi wilayah masing-masing.

Eskalasi Politik dalam konteks Pilkada tentunya berbeda dengan nuasan Pilpres dan Pileg. Pilkada lebih mengarah pada politik etis dalam kerangka pembangunan daerah, baik itu skala Provinsi hingga Kabupaten/Kota. Benar bahwa putusan mengenai masa depan daerah ada pada keputusan politik, dimana pengambilan keputusan tertinggi dalam pesta demokrasi skala daerah ada pada Pilkada. Isu primordial kedaerahan menjadi trending topic sehingga para calon tentunya akan menggunakan metode ini yang dikemas dengan visi misi yang lebih modernis dan berdasar pada kebutuhan masyarakat kekinian.

Setiap daerah pasti memiliki keunggulan dan keunikan tersendiri yang berdasar pada letak geografis dan juga variabel sosio-kultural yang ikut memengaruhi pilihan politik. Setiap masyarakat pun tentunya ingin agar daerah yang mereka tempati, laju pembangunannya, senantiasa berkembang dan meningkat sehingga ikut memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan teori pembangunan ekonomi, di mana salah satu variabel penunjang kesejahteraan masyarakat dipengaruhi oleh kelengkapan infrastruktur sebagai penunjang utamanya.

Ya, politik dan ekonomi senantiasa beriringan satu sama lainnya. Putusan yang tertuang dalam kebijakan merupakan produk politik yang imbasnya tentu memengaruhi sendi kehidupan termasuk dalam hal ekonomi dan pembangunan.

Benny Laos dan Pembangunan yang Sustainable .

Sosok Benny Laos menjadi daya tarik tersendiri dalam kontestasi Pilkada di Provinsi Maluku Utara. Berbekal sebagai mantan Bupati, sosok Benny Laos diyakini akan memberikan warna tersendiri dalam momentum Pilkada Di Maluku Utara.

Berbekal segudang prestasi ketika menjabat sebagai Bupati, Benny Laos diyakini akan membawa perubahan yang signifikan dalam arah pembangunan Maluku Utara. Sosok yang bersahaja yang dekat dengan masyarakat menjadikarakter yang melekat pada diri Benny Laos sekaligus ciri kepemimpinan yang inklusif, di mana model kepemimpinan ini menjadi kebutuhan utama dalam memimpin sebuah wilayah.

Selain itu, jiwa visioner dan juga adaptif dalam melihat perubahan zaman tentunya juga dimiliki oleh Benny Laos. Maluku Utara membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki ciri kepemimpinan inklusif, adaptif serta visioner dalam menyongsong masa depan Provinsi Maluku Utara.

Dengan visi dan misinya yang mengarah pada pembangunan infrastruktur seperti Jalan Raya, Fasilitas Kesehatan, Sarana Pendidikan, Sarana Olahraga, Dermaga hingga Pariwisata sebagai bagian dalam arah pembangunan yang berkelanjutan (sustainability) , Benny Laos memahami potensi besar yang dimiliki oleh Maluku Utara sebagai penopang kemajuan daerah di kawasan timur Indonesia.

Selain pembangunan infrastruktur, Benny Laos dalam visi dan misinya pun mengarah pada peningkatan pembangunan suprastruktur yang mengarah pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (human resource) seperti peningkatan kualitas pendidikan yang modernis yang menyandingkannya dengan local genius (adat istiadat dan tradisi) masyarakat Maluku Utara dan juga peningkatan layanan kesehatan sebagai bagian dari upaya menjadikan Maluku Utara sebagai Provinsi, di mana masyarakatnya memiliki tingkat semangat hidup di atas rata-rata.

Kemampuan leadership dalam diri Benny Laos diyakini sebagai sosok yang dibutuhkan masyarakat Maluku Utara. Spirit kemajuan daerah sebagai penopang utama masa depan Indonesia merupakan modal utama yang dimiliki Benny Laos. Hal inilah yang menjadikan sosok Benny Laos sebagai jawaban akan berbagai pertanyaan masyarakat terkait masa depan masyarakat Maluku Utara di masa yang akan datang.

Dr. Abd Rahmatullah Rorano S. Abubakar

Pengajar Universitas Kader Bangsa Palembang - Direktur Bakornas LKBHMI PB HMI 2018-2020 - Inisiator Gen Muda Bela Maluku Utara

@CitizenJurnalisme on Galeri
Perfect
New Day
Happy Day
Nature
Morning
Sunset